Jumat, 10 Mei 2013
Jumat, 28 September 2012
PUISI PART 2
-->
A.
Pengertian
Tema
Pada
dasarnya tema atau topik puisi merupakan pokok permasalahan dalam puisi. Tema
puisi merupakan perwujudan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh:
lingkungan hidup, kejujuran, cinta, perjuangan, kritik sosial. Tema puisi
bersifat khusus, berorientasi pada penyair dan obyektif.
B.
Jenis-Jenis
Puisi
Adapun
jenis-jenis puisi terdiri dari:
1.
Ditinjau
dari segi bahasanya, terdiri dari:
a.
Puisi Diafan
Adalah
puisi yang kurang pengimajinasian, sehingga puisinya mirip dengan bahasa
sehari-hari.
b.
Puisi Prismatis
Penyair
mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, diksi dan pengimajinasian,
sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya.
2.
Ditinjau
dari tujuannya, terdiri dari:
a.
Puisi Ekspresif
Puisi
yang menyatakan isi pikiran, perasaan, harapan kepada orang lain.
b.
Puisi Impresif
Puisi
yang ditujukan kepada diri sendiri atau berbicara kepada diri sendiri. Biasanya
berisi kesan atau kenangan akan suatu pengalaman hidup.
3.
Ditinjau
dari segi isinya, terdiri dari:
a.
Balada adalah puisi yang mengungkapkan tentang cerita atau
kisah.
b.
Ode adalah puisi yang mengungkapkan pujian (sanjungan)
terhadap seseorang yang berjasa, sesuatu hal, suatu keadaan.
c.
Satire adalah puisi yang
mengungkapkan tentang sindiran (kritikan).
d.
Romansa adalah jenis puisi
cerita yang mengungkapkan tentang luapan cinta kasih.
e.
Elegi adalah puisi yang
mengungkapkan perasaan duka.
f.
Epigram adalah puisi tentang
ajaran hidup.
4.
Ditinjau dari bentuknya,
terdiri dari:
a.
Distikon adalah puisi yang tiap
baitnya terdiri dari 2 baris.
Contoh:
Di pasar baru mereka lalu menggada menggaya
Meningkat sudah kesal tak tahu apa dibuat
Chairil
Anwar
b.
Terzina adalah puisi yang tiap
baitnya terdiri dari 3 baris.
Contoh:
Dalam ribaan pagi bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Sanusi
Pane
c.
Kuatrin (Kuartrain) adalah
puisi yang tiap baitnya terdiri dari 4 baris
Contoh:
Aku menimbang-nimbang mungkin
Kita berdua menjadi satu
Gaji dihitung-hitung
Cukup tidak untuk berdua
Armyn
Pane
d.
Kuint (Quintet) adalah puisi
yang tiap baitnya terdiri dari 5 baris.
Contoh: Satu-satu perasaan
Yang saya rasakan
Hanya
dapat saya rasakan
Kepada
tuan
Yang
pernah merasakan
Or Mandank
e.
Sektet adalah puisi yang tiap baitnya
terdiri dari 6 baris.
Contoh:
Di kelam hitam mengepung
Menjerit peluit kereta malam
Merintih ke langit
Derita hidup mengepung
Menjerit bangsaku sedang berjuang
Merintih ke langit
Nur Syamsu
f.
Septime adalah puisi yang tiap
baitnya terdiri dari 7 baris.
Contoh:
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gemunung bagus rupanya
Dilimpahi air mulia tampaknya
Tampak darahku Indonesia namanya
Moh. Yamin
g.
Stanza (Oktav) adalah puisi
yang tiap baitnya terdiri dari 8 baris
Contoh:
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa sendiri
Bertambah halus, akhirnya seni
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teduh tenang
Sanusi Pane
h.
Soneta adalah puisi yang
terdiri dari 14 baris, di mana 2 bait pertama terdiri 4 baris, sedangkan 2 bait
kedua masing-masing 3 baris.
Contoh:
Gita Gembala
Lemah gemulai lembut derana
Bertiuplah angin sepantun ribut
Menuju gunung arah ke sana
Membawa awan bercampur kabut
Dahan bergoyang sambut menyambut
Menjatuhkan embun jernih warnanya
Menimpa bumi beruap dan lembut
Sebagai benda tiada guna
Jauh di sana diliputi awan
Terdengar olehku bunyi suara kulintang
Seperti permata di dada perawan
Alangkah berahinya rasanya jantung
Mendengarkan bunyi suara kulintang
Melagukan gembala membawa untung
Muh.
Yamin
C.
Langka-Langkah
Memahami Isi Puisi
Adapun
langkah-langkah untuk memahami isi puisi sebagai berikut:
1.
Memahami
karakteristik bahasa puisi
Bahasa dalam puisi bersifat konotatif dan
emosional. Konotatif merupakan bentuk pengungkapan pengalaman pribadi penyair
yang menjadi rahasia dirinya. Pembaca hanya dapat menduga-duga dengan
menghubungkan antara pengalaman, pengetahuan dan hasil penginderaannya. Oleh
karena itu, memahami puisi tidak dapat dibakukan pada satu makna. Pembaca boleh
memiliki interpretasi yang berlainan.
Selain itu juga terdapat makna yang benar-benar
baru dan berbeda arti leksikalnya (makna kiasan atau simbolik). Contonya kata pedang dalam artikel ilmiah berarti
jenis senjata tajam, sedangkan dalam puisi bisa mengandung arti simbolos yaitu
kekerasan.
2. Memparafrasekan
Disamping kata-kata yang bermakan konotasi,
kekhasan puisi adalah bersifat padat dan singkat. Kata-kata dirangkai secara
implisit atau tanpa penghubung. Oleh karena itu, untuk memahami puisi kita
harus memparafrasekan puisi terlebih dahulu.
Memparafrasekan adalah mengubah teks puisi
menjadi sebuah prosa atau mengembalikan teks puisi ke dalam bentuk tuturan yang
lengkap. Kata-kata penghubung yang lepas dikembalikan lagi pada posisinya.
Menceritakan kembali isi puisi dengan menggunakan kata-kata sendiri secara
bebas.
D.
Pesan
Puisi
Pesan atau amanat merupakan kesan yang ditangkap
pembaca setelah membaca puisi. Cara menyimpulkan amanat puisi berkaitan dengan
cara pandang pembaca terhadap suatu hal. Meskipun ditentukan berdasarkan cara
pandang pembaca, anmanat tidak bisa lepas dari tema dan isi puisinyang
dikemukakan penyair.
PART 1
-->
PUISI
A. Hakikat Puisi
Puisi
merupakan ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang didasarkan pada pengalaman
jiwa dan bersifat imajinatif. Puisi merupakan karya sastra yang dominan dengan
pilihan kata (diksi) yang indah dan berirama. Keindahan puisi terletak pada
pemakaian diksi yang mewakili dan menginspirasi sebuah gagasan kehidupan secara
universal.
B.
Unsur-Unsur
Puisi
Adapun
unsur-unsur puisi dibentuk dari:
1.
Unsur intrinsik.
2.
Ekstrinsik puisi.
Unsur
ekstrinsik sebuah puisi meliputi unsur-unsur dari luar yang memengaruhi isi
karya sastra, baik unsur psikologi, sosial, agama, sejarah, filsafat, ideologi maupun
polotik.
C.
Unsur
intrinsik meliputi:
a.
Hakikat (isi) puisi.
Hakikat
(isi) puisi meliputi tema, amanat, nada dan suasana.
b.
Bentuk puisi.
Unsur
bentuk puisi meliputi larik atau baris, bait, pertautan diksi, majas, sajak
(rima) dan imaji.
1.
Baris
` Baris dalam puisi berguna sebagai
pencipta efek artistik dan pembangkit makna.
2. Diksi
Pilihan
kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna. Oleh karenanya perlu
dipahami adanya simbol dan lambang yang dipilih penyairnya. Kata dapat menciptakan
kesan imajinasi tertentu.
3.
Enjabemen
Pemenggalan
yang cermat dan hubungan antarbaris.
4.
Bait
Bait
dalam puisi (dalam satu bait yang terpenting adanya kesatuan makna).
5.
Tipografi
Lukisan bentuk dalam puisi, termasuk pemakaian
huruf besar dan tanda baca sebagai upaya untuk mengintensifkan makna, rasa, dan
suasana.
D.
Pengertian
Rima
Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang,
baik di dalam baris sajak, di awal baris sajak, maupun di akhir baris sajak.
E. Jenis-jenis rima
a.
Adapun jenis-jenis rima menurut letaknya dalam
satu bait terdiri atas:
1.
Rima rangkai
Pola rima: a-a-a-a
Contoh: Kalau sampai waktuku
Kumau takkan seorang merayu
Tidak juga kau
2.
Rima kembar (pasang)
Pola rima: a-a-b-b
Contoh: Dan ingatlah aku kan jiwa-jiwa
Muda belia, belum sampai umur dewasa
Gugur melepaskan nafas penghabisan
Jatuhlah air mataku, tak dapat kutahan
3.
Rima peluk
Pola rima: a-b-b-a
Contoh: Kau ketuk sendiri ambang dadamu anakku
Usapkan
jemari sudah berdarah
Simpan laras
bedil yang memerah
Ku tahu kau
kembali jua anakku
4.
Rima silang
Pola rima: a-b-a-b
Contoh: Ibarat gunung membiru tampak di cakrawala
Selalu diam tenang, membiarkan hujan
Dan angin menyiksa lerengnya,
suatu kala kan pecah meletus, memuntahkan
5.
Rima patah
Pola rima: a-a-a-b
Contoh: Raja dari batu hitam
Di balik rimba kelam
Naga malam
Mari kemari
b.
Jenis-jenis rima menurut bunyi dalam satu baris:
1.
Rima asonansi adalah
pengulangan bunyi vokal pada beberapa kata secara beruntundalam satu baris.
Contoh: Air mengalir menghilir sungai
Dalam termangu ku masih menyebut namaMu
2.
Rima aliterasi adalah
pengulangan bunyi konsonan pada beberapa kata secara beruntun dalam satu baris.
Contoh: Bukan beta bijak berperi
Remuk
runtuh rasa rakyat
F.
Pengertian
Majas
Majas adalah cara pengarang atau seseorang dalam mempergunakan bahasa
sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikiran yang terpendam di dalam
jiwanya.
G. Jenis-jenis
majas:
A. Majas
Perbandingan, yang terdiri dari:
1.
Personifikasi
Majas
kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.
Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang
mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.
Contoh:
a.
Angin yang meraung di tengah malam gelap itu menambah ketakutan kami.
b. Kata-katanya tajam seperti mata pisau.
2.
Metafora
Majas
ini semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam
bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan
sebagainya. Makna sebuah metafora dibatasi oleh sebuah konteks.
Contoh:
Dewi
malam telah keluar dari balik awan. (dewi malam = bulan)
3.
Hiperbola
Majas yang mengandung suatu
pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Contoh:
a.
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak kepalaku.
b.
Sudilah tuan mampir di gubuk sederhana saya.
4.
Litotes
Majas yang dipakai untuk
menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan
kurang dari keadaan sebenarnya atau pernyataan yang dikecil-kecilkan.
Contoh:
Perjuangan
kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
5.
Metonimia
Majas ini mempergunakan
nama hal yang ditautkan dengan segala sesuatu sebagai pengganti.
Contoh:
Kemarin
dia naik Fiat, sekarang naik Kijang.
B.
Majas Sindiran,
yang terdiri atas:
1.
Ironi
Majas ini ingin mengatakan
sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam
rangkaian kata-katanya (sindiran halus).
Contoh:
Kamu
datang sangat tepat waktu, sudah 5 mobil tujuan kita melintas.
2.
Sarkasme
Majas sindiran yang terkasar serta langsung
menusuk perasaan.
Contoh:
Otakmu
memang otak udang!
C.
Majas
Penegasan, yang terdiri dari:
1.
Pleonasme
Majas
ini mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan.
Contoh:
Saya
melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.
2.
Retorik
Majas penegasan dengan
mempergunakan kalimat tanya, yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
Contoh:
Mana
mungkin orang mati hidup kembali?
D.
Majas
Pertentangan, yang terdiri dari:
1.
Paradoks
Melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan,
padahal maksud sesungguhnya tidak karena objeknya berlainan.
Contoh:
Dina
merasa kesepian di tengah-tengah keramaian kota.
2.
Antitesis
Majas yang melukiskan
sesuatu denagn mempergunakan kepaduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Cantik atau tidak, kaya
atau miskin bukanlah suatu ukuran nilai seorang
-->
PUISI
A. Hakikat Puisi
Puisi
merupakan ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang didasarkan pada pengalaman
jiwa dan bersifat imajinatif. Puisi merupakan karya sastra yang dominan dengan
pilihan kata (diksi) yang indah dan berirama. Keindahan puisi terletak pada
pemakaian diksi yang mewakili dan menginspirasi sebuah gagasan kehidupan secara
universal.
B.
Unsur-Unsur
Puisi
Adapun
unsur-unsur puisi dibentuk dari:
1.
Unsur intrinsik.
2.
Ekstrinsik puisi.
Unsur
ekstrinsik sebuah puisi meliputi unsur-unsur dari luar yang memengaruhi isi
karya sastra, baik unsur psikologi, sosial, agama, sejarah, filsafat, ideologi maupun
polotik.
C.
Unsur
intrinsik meliputi:
a.
Hakikat (isi) puisi.
Hakikat
(isi) puisi meliputi tema, amanat, nada dan suasana.
b.
Bentuk puisi.
Unsur
bentuk puisi meliputi larik atau baris, bait, pertautan diksi, majas, sajak
(rima) dan imaji.
1.
Baris
` Baris dalam puisi berguna sebagai
pencipta efek artistik dan pembangkit makna.
2. Diksi
Pilihan
kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna. Oleh karenanya perlu
dipahami adanya simbol dan lambang yang dipilih penyairnya. Kata dapat menciptakan
kesan imajinasi tertentu.
3.
Enjabemen
Pemenggalan
yang cermat dan hubungan antarbaris.
4.
Bait
Bait
dalam puisi (dalam satu bait yang terpenting adanya kesatuan makna).
5.
Tipografi
Lukisan bentuk dalam puisi, termasuk pemakaian
huruf besar dan tanda baca sebagai upaya untuk mengintensifkan makna, rasa, dan
suasana.
D.
Pengertian
Rima
Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang,
baik di dalam baris sajak, di awal baris sajak, maupun di akhir baris sajak.
E. Jenis-jenis rima
a.
Adapun jenis-jenis rima menurut letaknya dalam
satu bait terdiri atas:
1.
Rima rangkai
Pola rima: a-a-a-a
Contoh: Kalau sampai waktuku
Kumau takkan seorang merayu
Tidak juga kau
2.
Rima kembar (pasang)
Pola rima: a-a-b-b
Contoh: Dan ingatlah aku kan jiwa-jiwa
Muda belia, belum sampai umur dewasa
Gugur melepaskan nafas penghabisan
Jatuhlah air mataku, tak dapat kutahan
3.
Rima peluk
Pola rima: a-b-b-a
Contoh: Kau ketuk sendiri ambang dadamu anakku
Usapkan
jemari sudah berdarah
Simpan laras
bedil yang memerah
Ku tahu kau
kembali jua anakku
4.
Rima silang
Pola rima: a-b-a-b
Contoh: Ibarat gunung membiru tampak di cakrawala
Selalu diam tenang, membiarkan hujan
Dan angin menyiksa lerengnya,
suatu kala kan pecah meletus, memuntahkan
5.
Rima patah
Pola rima: a-a-a-b
Contoh: Raja dari batu hitam
Di balik rimba kelam
Naga malam
Mari kemari
b.
Jenis-jenis rima menurut bunyi dalam satu baris:
1.
Rima asonansi adalah
pengulangan bunyi vokal pada beberapa kata secara beruntundalam satu baris.
Contoh: Air mengalir menghilir sungai
Dalam termangu ku masih menyebut namaMu
2.
Rima aliterasi adalah
pengulangan bunyi konsonan pada beberapa kata secara beruntun dalam satu baris.
Contoh: Bukan beta bijak berperi
Remuk
runtuh rasa rakyat
F.
Pengertian
Majas
Majas adalah cara pengarang atau seseorang dalam mempergunakan bahasa
sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikiran yang terpendam di dalam
jiwanya.
G. Jenis-jenis
majas:
A. Majas
Perbandingan, yang terdiri dari:
1.
Personifikasi
Majas
kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.
Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang
mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.
Contoh:
a.
Angin yang meraung di tengah malam gelap itu menambah ketakutan kami.
b. Kata-katanya tajam seperti mata pisau.
2.
Metafora
Majas
ini semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam
bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan
sebagainya. Makna sebuah metafora dibatasi oleh sebuah konteks.
Contoh:
Dewi
malam telah keluar dari balik awan. (dewi malam = bulan)
3.
Hiperbola
Majas yang mengandung suatu
pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Contoh:
a.
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak kepalaku.
b.
Sudilah tuan mampir di gubuk sederhana saya.
4.
Litotes
Majas yang dipakai untuk
menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan
kurang dari keadaan sebenarnya atau pernyataan yang dikecil-kecilkan.
Contoh:
Perjuangan
kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
5.
Metonimia
Majas ini mempergunakan
nama hal yang ditautkan dengan segala sesuatu sebagai pengganti.
Contoh:
Kemarin
dia naik Fiat, sekarang naik Kijang.
B.
Majas Sindiran,
yang terdiri atas:
1.
Ironi
Majas ini ingin mengatakan
sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam
rangkaian kata-katanya (sindiran halus).
Contoh:
Kamu
datang sangat tepat waktu, sudah 5 mobil tujuan kita melintas.
2.
Sarkasme
Majas sindiran yang terkasar serta langsung
menusuk perasaan.
Contoh:
Otakmu
memang otak udang!
C.
Majas
Penegasan, yang terdiri dari:
1.
Pleonasme
Majas
ini mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan.
Contoh:
Saya
melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri.
2.
Retorik
Majas penegasan dengan
mempergunakan kalimat tanya, yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
Contoh:
Mana
mungkin orang mati hidup kembali?
D.
Majas
Pertentangan, yang terdiri dari:
1.
Paradoks
Melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan,
padahal maksud sesungguhnya tidak karena objeknya berlainan.
Contoh:
Dina
merasa kesepian di tengah-tengah keramaian kota.
2.
Antitesis
Majas yang melukiskan
sesuatu denagn mempergunakan kepaduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Cantik atau tidak, kaya
atau miskin bukanlah suatu ukuran nilai seorang
Langganan:
Postingan (Atom)